BANYUWANGI, 1 Maret 2026 – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Avianto, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Ketua Kwarda Pramuka Jatim dan Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jatim H. M. Arum Sabil melaksanakan panen jagung hasil tanam kuartal IV Tahun 2025 di Pusat Pelatihan Pertanian Taruna Bumi, Green Farm, Desa Karangsari, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi, Sabtu (28/2).
Total lahan panen seluas 50 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 10 hektare telah memasuki masa panen dengan estimasi produktivitas 8-10 ton per hektare.
Bukan sembarangan, jagung yang dipanen merupakan jagung hibrida jenis Jenderal dengan sistem panen glondong. Tanaman tersebut ditanam pada 9 November 2025 dan dipanen pada hari ini, mencerminkan proses budidaya yang terencana dan pengelolaan yang disiplin.
Secara khusus, Gubernur Khofifah mengapresiasi kuatnya sinergi antara Polda Jawa Timur, Kwartir Daerah (Kwarda) Pramuka Jawa Timur, dan HKTI Jawa Timur dalam kegiatan Panen Jagung Tahun 2026
Menurut Khofifah, kolaborasi lintas sektor tersebut merupakan wujud nyata penguatan kedaulatan pangan daerah sekaligus kontribusi strategis Jawa Timur dalam menjadi lumbung pangan nasional serta menjaga ketahanan pangan nasional.
“Atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Timur, saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Polda Jatim, Kwarda Pramuka Jatim, dan HKTI Jatim yang telah menunjukkan sinergi produktif dalam mendukung ketahanan dan kedaulatan pangan,” ujar Khofifah.
Sebagai Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Majelis Pembimbing Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur, ia menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bukti konkret bahwa kolaborasi antar lembaga mampu menghasilkan dampak langsung terhadap peningkatan produksi pangan dan penguatan ekonomi masyarakat.
Khofifah menjelaskan bahwa Jawa Timur saat ini tercatat sebagai produsen jagung terbesar nasional. Berdasarkan data BPS tahun 2025, total produksi jagung Jawa Timur mencapai 4,59 juta ton atau berkontribusi sebesar 28,39 persen terhadap produksi nasional, dengan luas panen 758.469 hektare dan menjadi yang tertinggi di Indonesia.
“Namun capaian ini tidak boleh membuat kita berpuas diri. Keberlanjutan harus dijaga melalui regenerasi petani dan modernisasi pertanian agar produksi terus meningkat dan memberi manfaat bagi generasi mendatang,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa ketahanan pangan bukan hanya persoalan produksi, tetapi juga fondasi stabilitas sosial dan ekonomi. Di tengah tantangan perubahan iklim, fluktuasi harga komoditas, serta dinamika perdagangan global, sektor pertanian memerlukan strategi komprehensif dan kolaborasi lintas sektor.
“Kedaulatan pangan adalah bagian dari martabat bangsa. Jika produksi pangan kita kuat dan berkelanjutan, maka stabilitas sosial dan ekonomi masyarakat juga akan lebih terjaga,” ujarnya.
Khofifah juga menyoroti peran strategis Gerakan Pramuka dalam menjawab tantangan regenerasi petani. Melalui keterlibatan langsung dalam proses budidaya, anggota Pramuka mendapatkan pembelajaran kontekstual dari hulu hingga hilir.
“Ketika adik-adik Pramuka terlibat langsung mulai dari pengolahan lahan, penanaman, perawatan hingga panen, sesungguhnya mereka sedang belajar manajemen, kepemimpinan, tanggung jawab, dan kerja tim. Ini adalah investasi karakter sekaligus investasi ketahanan pangan kita,” katanya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pertanian masa kini harus berbasis inovasi dan teknologi. Pemanfaatan benih unggul, sistem irigasi efisien, mekanisasi pertanian, hingga digitalisasi pemasaran menjadi bagian dari transformasi sektor pertanian Jawa Timur.
“Generasi Pramuka yang akrab dengan teknologi memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan dalam transformasi pertanian modern. Kita ingin generasi muda tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi pencipta nilai tambah dan produsen inovasi,” imbuhnya.
Khofifah berharap model sinergi antara aparat kepolisian, organisasi kepemudaan, organisasi petani, dan pemerintah daerah ini dapat terus diperkuat dan direplikasi di seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur.
“Panen hari ini adalah hasil kerja bersama. Ketika seluruh elemen bergerak dalam satu visi, maka kedaulatan pangan bukan sekadar slogan, tetapi menjadi gerakan nyata,” ujarnya optimistis.
Di akhir, Khofifah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga semangat gotong royong demi memastikan Jawa Timur tetap menjadi pilar ketahanan pangan nasional.
“Dengan integritas, kerja keras, dan sinergi yang berkelanjutan, kita optimistis Jawa Timur akan terus berkontribusi besar bagi kedaulatan pangan Indonesia,” pungkasnya.




































