JOMBANG BER-QURBAN 2026: JANGAN BIARKAN DAGING MENUMPUK DI KOTA, SAATNYA MENEMBUS PELOSOK DUSUN!

Oleh: Didin A. Sholahudin (Ketua Dewan Masjid Indonesia [DMI] Kabupaten Jombang)

Esok hari adalah Idul Adha 1447 H. Mari kita jujur sejenak dan melihat realitas yang terjadi setiap tahun.

Berapa banyak dari kita yang melihat masjid-masjid di area perkotaan Jombang kelebihan stok daging qurban, hingga satu rumah bisa menerima 3 sampai 5 kantong daging?

Sementara itu, mari tengok saudara-saudara kita di pelosok dusun terjauh, di pinggiran hutan, di wilayah Jombang yang minim akses. Bagi mereka, mencium bau kuah gulai daging setahun sekali saja sudah menjadi kemewahan yang langka.

Apakah ini hakikat qurban yang diajarkan Nabi Ibrahim AS? Tentu tidak!

Ibadah qurban bukan sekadar ritual menyembelih hewan lalu membagikannya kepada tetangga sebelah rumah yang secara ekonomi sudah berkecukupan. Qurban adalah lambang kepedulian sosial total, sebuah momentum untuk meruntuhkan ego dan memperluas skala berbagi.

Saatnya kita berubah ! Masjid dan musholla dengan perolehan hewan qurban yang banyak harus mulai membuka diri, meruntuhkan ego, untuk berbagi kepada wilayah dengan jangkauan lebih luas.

Ingat, masih banyak warga di pelosok desa di Jombang yang sangat berharap dan membutuhkan daging.

Qurban adalah momentum kita untuk menebar kebaikan. Hentikan penumpukan daging qurban hanya di wilayah perkotaan!

Tahun 2026 ini harus menjadi titik balik. Jombang harus meluaskan jangkauan syiar ini. Masjid-masjid besar yang memiliki surplus hewan qurban untuk mulai berkoordinasi, memetakan, dan menyalurkan daging qurban mereka ke pelosok-pelosok dusun di Jombang yang selama ini “kering” dari hewan qurban.

Jangan biarkan ada satu dusun pun di Jombang yang melompati hari raya tanpa kebahagiaan menikmati daging qurban.

Keberkahan masjid kita tidak diukur dari seberapa banyak hewan yang disembelih di halaman, melainkan seberapa jauh manfaatnya mengalir memecah kemiskinan di pelosok daerah.

Namun, urusan kita tidak berhenti di sana. Syiar kebaikan yang luas tidak boleh menyisakan kerusakan bagi bumi.

Seringkali, niat baik kita berbagi daging qurban justru menyisakan “dosa ekologis”: ribuan kantong plastik hitam sekali pakai yang mengotori lingkungan dan butuh ratusan tahun untuk terurai.

Kita beribadah kepada Allah, tapi kita mengotori bumi ciptaan-Nya. Ini kontradiksi yang harus dihentikan!

Oleh karena itu, Ide Green Qurban yang dikampanyekan DMI Jombang harus kita lanjutkan dan eksekusi dalam aksi nyata, bukan sekadar menjadi slogan di atas kertas.

Kita berharap seluruh panitia qurban di Jombang untuk memigrasikan proses qurban menjadi ramah lingkungan:

1. Ganti kantong plastik sekali pakai dengan wadah alternatif yang ramah lingkungan seperti besek bambu, daun jati, daun pisang, atau kantong berbasis singkong (biodegradable).

2. Kelola limbah qurban dengan benar. Jangan sekali-kali membuang kotoran dan darah hewan ke sungai-sungai Jombang! Buat lubang pembuangan khusus (khof) agar limbah terkubur dengan baik dan tidak menimbulkan penyakit serta bau bagi warga.

Masjid harus menjadi pelopor peradaban. Jika kita bisa menyatukan dua gerakan besar ini—Distribusi Berkeadilan ke Pelosok Dusun dan Aksi Nyata Green Qurban—maka Idul Adha 1447 H di Jombang akan menjadi sebuah mahakarya ibadah yang sangat indah.

Sebuah ibadah yang membahagiakan manusia di bumi, sekaligus menjaga kelestarian alam semesta.

Mari bergerak bersama. Ketuk pintu-pintu hati para pekurban, tata ulang manajemen distribusi masjid Anda, dan bawa perubahan nyata tahun ini!

Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H. Semoga Allah meridhoi niat dan ikhtiar kita. Amien.