Paris, 22 Oktober 2026 — Indonesia kembali menorehkan prestasi di kancah ilmu pengetahuan internasional. Ilmuwan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Sri Fatmawati, meraih pencapaian istimewa dengan terpilih sebagai Fellow of the International Science Council (ISC).
Pengakuan ini mengantarkan Sri Fatmawati ke dalam jejaring ilmuwan dan pemimpin sains dunia yang dipandang telah memberikan sumbangsih penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan kehidupan masyarakat.
Perjalanan karier Sri Fatmawati dibangun melalui beragam kiprah, mulai dari mengkaji kekayaan hayati Indonesia, mengembangkan obat dari bahan alam, hingga menjalankan kepemimpinan di berbagai organisasi sains internasional. Melalui perjalanan tersebut, ia memadukan keunggulan ilmiah, kepemimpinan, dan kemanusiaan atau scientific excellence, leadership, and humanity.
Lebih dari 30 penghargaan telah diraihnya, antara lain L’Oréal–UNESCO International Rising Talents, OWSD–Elsevier Foundation Award, Hitachi Global Foundation Asia Innovation Award, serta Falling Walls International Female Science Talents.
Kini, terpilihnya sebagai ISC Fellow membuka babak berikutnya dalam perjalanan ilmuwan Indonesia tersebut.
Bagi Indonesia, pencapaian Sri Fatmawati menjadi tonggak penting. Ia tercatat sebagai ilmuwan pertama dari Indonesia yang bergabung dalam jejaring internasional yang menghimpun ilmuwan, insinyur, pemimpin akademik, serta tokoh-tokoh yang berkiprah di titik temu antara sains dan kebijakan global.
International Science Council (ISC), atau Dewan Sains Internasional, merupakan salah satu organisasi sains global paling berpengaruh. Berkantor pusat di Paris, Prancis, organisasi ini memiliki jejaring sekitar 250 organisasi ilmiah dari berbagai belahan dunia. ISC mengemban misi sebagai the global voice for science, yakni suara global bagi ilmu pengetahuan, sekaligus menghubungkan sains dengan kebijakan, masyarakat, dan diplomasi internasional.
Melalui pengumuman ISC pada 16 Oktober 2026, Sri Fatmawati masuk dalam jajaran ilmuwan dan pemimpin pemikiran dari berbagai negara yang dinilai berkontribusi penting terhadap kemajuan sains sebagai global public good atau barang publik global.
ISC Fellowship memiliki kedudukan istimewa sebagai penghargaan tertinggi yang diberikan ISC kepada individu. Pengakuan ini diperuntukkan bagi ilmuwan dan pemimpin pemikiran yang tidak hanya memiliki prestasi ilmiah, tetapi juga turut mempererat hubungan antara pengetahuan, kebijakan, dan kehidupan masyarakat. Para Fellow dalam kelompok terbaru berasal dari hampir 30 negara dan menjadi bagian dari jejaring global yang beranggotakan lebih dari 200 ISC Fellows.
Dewan Sains Internasional: Menyatukan Ilmu Pengetahuan Dunia Selama Lebih dari Satu Abad
International Science Council (ISC) atau Dewan Sains Internasional berkedudukan di Paris, Prancis, dan termasuk salah satu organisasi sains global paling berpengaruh, dengan jejaring sekitar 250 organisasi ilmiah di seluruh dunia. Melalui misi the global voice for science, ISC menyuarakan kepentingan ilmu pengetahuan di tingkat global serta mempertemukannya dengan kebijakan, masyarakat, dan diplomasi internasional.
ISC secara resmi terbentuk pada 2018 melalui penyatuan International Council for Science (ICSU) dan International Social Science Council (ISSC). Namun, akar sejarah organisasi ini telah berkembang lebih dari satu abad, hingga pembentukan International Research Council pada 1919. Jejak panjang tersebut melahirkan berbagai kerja sama penting di dunia, mulai dari International Geophysical Year hingga program-program global mengenai iklim, kelautan, Antarktika, dan keberlanjutan.
Dalam ekosistem ilmiah yang luas tersebut, ISC Fellowship memiliki prestise yang sangat tinggi. ISC secara resmi menempatkannya sebagai penghargaan tertinggi yang dapat diberikan organisasi itu kepada individu, khususnya ilmuwan dan pemimpin pemikiran dengan kontribusi luar biasa bagi ilmu pengetahuan dan masyarakat.
Bertumpu pada Kekayaan Biodiversitas Indonesia
Sri Fatmawati mendalami bidang natural product and medicinal chemistry, dengan penelitian yang berfokus pada biodiversitas, pengobatan tradisional, kimia medisinal, serta inovasi kesehatan. Sejak 2002, ia menjalankan tugas akademik di ITS melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Keanekaragaman hayati Indonesia merupakan salah satu landasan utama perjalanan keilmuannya. Dalam pandangan Sri Fatmawati, sumber daya alam Nusantara bukan sekadar warisan biologis, melainkan juga sumber pengetahuan yang bisa diteliti secara ilmiah, dikembangkan menjadi kekayaan intelektual, serta diwujudkan sebagai inovasi yang relevan dengan kebutuhan kehidupan.
Kiprah tersebut terlihat melalui berbagai publikasi ilmiah dan paten terdaftar yang meliputi pengembangan produk herbal, kandidat antidiabetes, imunomodulator, serta beragam inovasi yang bersumber dari kekayaan hayati.
Menghubungkan Laboratorium dengan Ekosistem Inovasi
Sri Fatmawati saat ini juga dipercaya menjadi Direktur Indonesian Herbal and Horticultural Science Technology Park (TSTH2). Melalui tanggung jawab tersebut, ia mengupayakan keterkaitan antara penelitian biodiversitas dan herbal dengan teknologi, kekayaan intelektual, industri, serta pengembangan inovasi agar dapat dimanfaatkan secara lebih luas.
Menurutnya, hasil penelitian semestinya tidak berakhir pada publikasi. Pengetahuan dari laboratorium perlu menghasilkan bukti ilmiah, dikembangkan menjadi inovasi, dan selanjutnya menghadirkan dampak nyata.
Cara pandang itu turut mewarnai kepemimpinannya dalam berbagai organisasi ilmiah. Sri Fatmawati adalah pendiri sekaligus Ketua Organization for Women in Science for the Developing World (OWSD) Indonesia National Chapter. Ia juga pernah memimpin Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) dan menjadi Executive Committee Global Young Academy (GYA) pada periode 2022–2025.
Kiprahnya memperlihatkan bahwa kepemimpinan dalam sains tidak semata diukur dari keberhasilan menduduki posisi tertinggi. Kepemimpinan juga diwujudkan melalui kemampuan membuka ruang bagi ilmuwan lain untuk berkembang, membangun jejaring, dan mendapatkan kesempatan berkontribusi.
Rangkaian Pengakuan di Tingkat Internasional
Sumbangsih Sri Fatmawati dalam ilmu pengetahuan dan kepemimpinan telah memperoleh lebih dari 30 pengakuan nasional maupun internasional. Beberapa di antaranya adalah International Rising Talents L’Oréal–UNESCO for Women in Science, OWSD–Elsevier Foundation Award for Early-Career Women Scientists, Hitachi Global Foundation Asia Innovation Award, Falling Walls International Female Science Talents, dan Dr. Willmar Schwabe Award.
Penetapannya sebagai ISC Fellow menandai fase baru dalam rangkaian perjalanan tersebut.
Bagi ISC, para Fellow tidak hanya berperan sebagai ahli dalam bidang masing-masing. Mereka juga merupakan knowledge brokers yang dapat menjembatani pengetahuan ilmiah dengan kebutuhan dunia. Para Fellow diharapkan turut menguatkan peran sains dalam merespons tantangan global dan memastikan pemanfaatan ilmu pengetahuan secara bertanggung jawab demi kepentingan bersama.
Prinsip tersebut selaras dengan keyakinan yang selama ini dipegang Sri Fatmawati: “Science is a way of humanity.” Bagi Sri Fatmawati, nilai paling luhur dari sains tidak hanya bertumpu pada publikasi, sitasi, laboratorium, maupun penghargaan. Ilmu pengetahuan memperoleh maknanya ketika dapat meningkatkan kualitas kehidupan, memberdayakan manusia, membuka peluang bagi sesama, serta berkontribusi dalam membangun masa depan yang lebih baik.
Dengan demikian, terpilihnya Sri Fatmawati sebagai Fellow Dewan Sains Internasional memiliki makna yang melampaui keberhasilan pribadi. Pencapaian ini merepresentasikan kekayaan biodiversitas Indonesia yang mendapat tempat dalam percakapan global, perempuan Indonesia yang turut menjalankan kepemimpinan sains dunia, serta ilmu pengetahuan yang kembali diarahkan untuk kemanusiaan.
Sebuah babak baru pun terbuka, dari laboratorium di Indonesia menuju jejaring ilmiah internasional.
Sri Fatmawati mengangkat sains Indonesia ke panggung dunia dengan menjadikan pengetahuan sebagai kekuatan, kolaborasi sebagai jalan, dan kemanusiaan sebagai tujuan.
Untuk mengikuti aktivitas ilmiah dan kepemimpinan Sri Fatmawati:
Instagram: @srifatmawati_phd
LinkedIn: Sri Fatmawati, Ph.D.




































